JAKARTA, UDAHKETEMU.COM — Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 22–23 September 2026.
Selain BI-Rate, Bank Indonesia juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.
BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di tengah tekanan pasar keuangan global yang masih tinggi. Bank sentral juga memperkuat berbagai instrumen moneter untuk menjaga stabilitas rupiah.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan BI mengoptimalkan kebijakan moneter, termasuk memperluas insentif untuk meningkatkan aliran investasi portofolio asing.
BI juga memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing untuk membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Pada 22 September 2026, nilai tukar rupiah tercatat sekitar Rp17.855 per dolar AS. BI mencatat rupiah mengalami tekanan terbatas dibandingkan posisi akhir Agustus.
Inflasi Indonesia Agustus 2026 Capai 3,19 Persen
Selain nilai tukar, perkembangan inflasi menjadi pertimbangan dalam kebijakan BI.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut meningkat dibandingkan inflasi Juli yang berada di level 2,88 persen.
BI menyebut kenaikan terutama berasal dari kelompok volatile food yang mengalami inflasi 4,06 persen. Beberapa komoditas yang memberikan kontribusi antara lain daging ayam ras, cabai rawit, dan beras.
Sementara itu, inflasi inti tetap berada pada level 2,92 persen. BI menyatakan kondisi tersebut masih mendukung sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Ekonomi Indonesia 2026 Diproyeksi Tumbuh 4,9–5,7 Persen
Bank Indonesia masih melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga.
BI memprakirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor yang menopang aktivitas ekonomi. BI mencatat keyakinan dan ekspektasi penghasilan konsumen mulai menunjukkan penguatan.
Investasi juga masih tumbuh, terutama melalui investasi pemerintah. Namun, BI menilai peran investasi swasta masih perlu diperkuat untuk meningkatkan sumber pertumbuhan ekonomi.
Dari sektor eksternal, ekspor nonmigas juga menunjukkan peningkatan seiring naiknya permintaan dari sejumlah negara.
Cadangan Devisa Indonesia Tetap Kuat
Di tengah tekanan global, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang cukup tinggi.
Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir Agustus 2026 mencapai US$146,5 miliar. Posisi tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Kondisi tersebut menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal Indonesia ketika pasar keuangan global menghadapi ketidakpastian.
Harga Minyak Dunia Jadi Perhatian
Selain kebijakan moneter, perkembangan harga energi global juga menjadi perhatian terhadap ekonomi Indonesia.
Harga minyak dunia yang sempat menembus US$100 per barel berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga minyak dapat memengaruhi biaya energi dan berbagai aktivitas ekonomi. Dampaknya juga perlu diperhatikan apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu yang lebih panjang.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Keputusan mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen berarti suku bunga acuan belum berubah pada September 2026.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya BI menjaga stabilitas rupiah dan inflasi sambil tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi.
Masyarakat dan pelaku usaha tetap perlu memperhatikan perkembangan suku bunga, nilai tukar, harga pangan, serta harga energi karena faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
