Thailand Diambang Resesi, Pertumbuhan Ekonomi di Perkirakan minus 7,3 %

Pertumbuhan ekonomi Thailand diproyeksi minus 7,3% hingga 7,8% tahun ini atau lebih parah dibanding proyeksi sebelumnya minus 5 hingga 6%. Ekonomi Thailand diperkirakan lebih terpuruk setelah pertumbuhan ekonomi kuartal II mengalami kontraksi yang besar sejak 22 tahun lalu.

Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) mengatakan revisi tersebut terutama karena penurunan tajam dalam jumlah dan pendapatan dari turis asing, perdagangan, dampak pandemi, dan kekeringan.

Proyeksi tersebut juga memangkas nilai ekspor, konsumsi dan investasi menjadi masing-masing -10%, -3,1% dan -5.8%. Angka itu lebih rendah dari perkiraan yang dibuat 18 Mei yakni masing-masing -8%, -1,7% dan -2,1%.

Proyeksi tersebut mengasumsikan wabah dapat ditahan pada kuartal keempat dan tidak ada gelombang infeksi kedua di negara tersebut.

Sekretaris Jenderal NESDC Thosaporn Sirisamphand mengatakan ekonomi Thailand hanya bergantung pada dua kontributor yakni konsumsi dan investasi pemerintah. Dewan mengharapkan investasi publik tumbuh sebesar 8,6% meningkat dari 5,6% yang diproyeksikan pada 18 Mei. Lalu, konsumsi pemerintah tetap tidak berubah dengan pertumbuhan 3,6%.

“Pemerintah perlu mempercepat investasi publik secepat mungkin, terutama untuk proyek infrastruktur yang masih tertunda,” kata Thosaporn seperti dikutip dari Bangkok Post, Selasa (18/8/2020).

NESDC melaporkan pertumbuhan ekonomi Thailand minus 12,2% di kuartal kedua. Kontraksi ini terbesar sejak krisis keuangan Asia tahun 1997-1998. Kontraksi tersebut jauh lebih dalam daripada kuartal sebelumnya minus 2%.

Hal itu sebagian besar disebabkan oleh menurunnya ekspor barang dan jasa, investasi dan konsumsi swasta.

“Kontraksi pada kuartal kedua kemungkinan besar rendahnya perekonomian Thailand tahun ini,” katanya.