Fakta Menarik Kemerdekaan RI : Naskah Proklamasi Sempat Hilang ?

75 tahun silam, pemimpin bangsa membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia untuk yang pertama kalinya.

Momen itu adalah satu-satunya kesempatan bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaan saat kekosongan kekuasaan dari penjajahan 2 bangsa asing.

Setelah itu, bulan Agustus di setiap tahunnya selalu menjadi bulan yang istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia. Secara tidak langsung menjadikan bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka, tidak lagi berada di bawah kekuasaan negara manapun, dan terbebas dari penjajahan.

Tentu saja, butuh waktu yang tidak sebentar bagi bangsa Indonesia hingga akhirnya sampai di momen paling penting dalam sejarah ini. Dimulai dari dibentuknya BPUPKI, lalu berganti menjadi PPKI, perdebatan antara golongan tua dan muda, hingga akhirnya berkibarlah Sang Saka Merah Putih di langit Indonesia dan teks proklamasi yang telah dirumuskan sebelumnya oleh Ir Soekarno dkk akhirnya bisa dideklarasikan.

Dari proses yang panjang menuju kemerdekaan bangsa Indonesia inilah terdapat beberapa fakta menarik tentang hari kemerdekaan RI yang perlu kita ketahui sebagai anak bangsa. Berikut 5 fakta-fakta tersebut yang mungkin belum Anda ketahui.

1. Ir Soekarno membacakan teks proklamasi dalam keadaan sakit

Sakitnya presiden pertama kita ketika membacakan teks proklamasi ini tidak banyak diketahui orang. Sebagian dari kita mungkin salah satunya.

Waktu itu Bung Karno kabarnya tengah menderita malaria. Dua jam sebelum pembacaan teks proklamasi atau tepatnya pukul 08.00 WIB, Soekarno didiagnosa mengalami gejala malaria tertian.

Soekarno pun kemudian beristirahat, setelah disuntik dan diberi obat. Ia memimpin upacara proklamasi pada pukul 10.00 WIB, dengan penuh semangat. Karena sakitnya ini jugalah Soekarno tidak berpuasa pada hari tersebut, padahal hari kemerdekaan Indonesia bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Usai upacara Proklamasi Kemerdekaan, Sukarno yang masih sakit kembali ke kamar tidurnya.

2. Ukuran bendera terlalu kecil

Pengibaran Sang Saka Merah Putih di langit Indonesia adalah sebuah momen yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Ternyata, menurut cerita yang beredar, bendera yang dikibarkan di rumah presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 ini bukanlah bendera pertama yang dijahit oleh Fatmawati.

Sang ibu negara sebenarnya sudah menjahit sebuah bendera yang akan dikibarkan pada hari kemerdekaan. Namun, sangat disayangkan, ternyata bendera tersebut terlalu kecil untuk dikibarkan lantaran hanya berukuran 50 cm.

Ibu Fatmawati kemudian mengambil kain dari sprei berwarna putih yang ada di dalam lemarinya. Sementara pemuda Indonesia yang bernama Lukas Kastaryo mencari kain merah atas amanat Ibu Fatmawati. Kain tersebut didapat, dari seorng penjual soto. Akhirnya, dijahitlah bendera Merah Putih dengan ukuran yang lebih besar dan sesuai untuk dikibarkan, dari kain sprei dan kain dari penjual soto.

3. Naskah Proklamasi hilang jelang pembacaan

Sebuah kejadian unik terjadi menjelang pembacaan proklamasi kemerdekaan RI. Kala itu, naskah proklamasi yang akan dibacakan oleh Soekarno mendadak hilang dan tidak bisa ditemukan. Untungnya, naskah tersebut sudah disalin oleh Sayuti Melik. Sebelum akhirnya dibacakan oleh Bung Karno.

Uniknya, naskah asli ditemukan di tong sampah oleh seorang wartawan bernama BM Diah. Naskah tersebut kemudian disalin dan diserahkan kepada pemerintahan pada tahun 1992.

4. Rekaman Proklamasi bukan suara asli Bung Karno

Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar sebuah suara yang membacakan naskah proklamasi kemerdekaan. Itu memang suara Bung Karno, hanya saja bukan suara asli ketika teks itu pertama kali dibacakan.

Rekaman pembacaan naskah proklamasi yang beredar saat ini adalah rekaman ulang suara Bung Karno di tahun 1951, yang kemudian dikirimkan ke Lokananta pada tahun 1959. Hal ini dilakukan karena sebenarnya tidak ada dokumentasi resmi saat pembacaan teks proklamasi di tahun 1945.

5. Pernyataan kemerdekaan yang sangat sederhana

Sederhana, demikianlah gambaran suasana upacara proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 silam. Tidak ada protokol. Suwirjo, yang merupakan Wakil Walikota Jakarta saat itu ditunjuk sebagai Panitia bersama Dokter Muwardi.

Dalam otobiografinya, ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’, Soekarno menyebut bahwa mikrofon (pengeras suara) yang dipakai untuk upacara itu pun dicuri dari stasiun Radio milik Jepang. Bendera Merah-Putih yang dikibarkan adalah hasil buah tangan Fatmawati. Sedangkan tiang bendera berasal dari batang bambu yang diambil dari belakang rumah Soekarno.